Selamat datang di Linggar Story Center

Selasa, 16 Maret 2010

Calon Buat Ajeng/Candidates Make Ajeng

Penulis : Asma Nadia
Calon Suami???!
Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.
Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.
”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”
”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.
Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.
”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.
”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak.
Huhh, dasar kembar!
***
”Ajeng…!”
Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.
”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.
Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi….
Benar saja.
“Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”
”Boy, Tante!”
”Eh, iya. Boi!”
Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!
Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.
Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.
”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”
Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!
***
Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?
”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir.
”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.
Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!
”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!”
Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.
”Apa perlu Bambang yang nyariin???!”
Lemparan bantalku kembali melayang.
***
Kriiiiing…!!!
Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.
Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.
Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!
”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.
”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.
”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.
Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri….
Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.
***
Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.
”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.
Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.
”Junaedi. Panggil aja Juned!”
Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.
Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!
Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.
”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”
Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.
Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.
”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.”
Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.
”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.”
Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!
Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.
***
Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.
”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….
”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”
Duhh, Mami!
Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.
Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.
Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.
”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.
”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar.
Gantian aku yang bingung.
”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.
”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?”
Aku tambah melongo.
”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.
”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!”
Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.
”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar.
Tampak Saleh manggut-manggut.
”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….
”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?”
Tawa Rani meledak.
Duhhh, Mami!!!
***
Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.
”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.
Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.
”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.
”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.
”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.
***
Kesibukanku menulis diary terhenti.
”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.
”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.
Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.
Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.
Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:
Kepada Calon Suamiku….
Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.
Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.
Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.
Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.
Calon suamiku….
Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.
Calon suamiku….
Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!
Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.
Wassalam,
Adinda
NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?
”Syahril… Nama saya Syahril.”
Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.
”Ajeng…!”
Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.
”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar.
Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.
”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?”
Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.
”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.”
Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.
“Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”
Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.
”Apa, Jeng…khitbah? Ngelamar, ya…??”
Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.
Aku masih terpana.
Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu???

sumber : http://ceritacinta.net/2007/04/12/calon-buat-ajeng/






English Version
  Candidates Make Ajeng
Author: Asma Nadia
Prospective Husband?!
Pfui, kuhembuskan nafasku tightly. I'm bored. Again discussed future husband. Bayangin, already two months there was no topic is more the trend in the home, but about her husband.
Starting from Papi who always sarcastically, already pengen rocking grandchildren. Mami who repeatedly advised me not too picky sugarcane. Then Bambang, my sister, who hope to neutralize the atmosphere, could not help teasing part. Even the twins Rani-Rano, who still had ice em pe, joining in lecture.
"Mbak Maya's've become an engineer, time udah dong, mikirin family. Besides, Rani same kan udah pengen Rano called 'Auntie and Uncle'. Tika wrote the new sixth grade, his nephew've four! "
"Yeah, Mbak. Today, she should be aggressive. Mbak Maya's, it works exclusively learned ama Koran! "Chimed Rano twin words.
I could only stare, nemu where else think like that.
"There Udah you learn!" Hardikku bit harder.
"See, kaaaan?!?" Cried they both compact.
Huhh, primary twins!
***
"Maya ...!"
I heard the call from the front of the Mummy. Slowly I rose from the desk study. After smoothing the hijab, I'm out.
"What, Mi?" I asked mildly. Brief time I saw the figure of a man, sitting in the corner.
Both Mummy eyes glowing look. Oo ... Oo ...! There must be something not right, I muttered to myself. Iiih su'udzon ..! But ....
Yeah, right.
"Maya, kenalin. This Papi's right hand in the office. Wonderful, yes! Young has become Vice President Director. Come on, kenalin first. This kid Bui .... "
"Boy, Auntie!"
"Er, yes. Boi! "
I can only keep amused. Mummy ... Mummy ...!
Geliku sudden sense of loss, when the next two hours I had to listen to chat with The Mummy Boi said.
Not playing, lagaknya! I thought grumbled to himself, heard the stories purely foreign smells.
"So, Auntie, while studying at Harvard, I try to do business themselves. The results fairly. I can walk around the United States, Europe and even every time holiday! "
Hihhh, exasperated me! Especially amazed to see the faces glow Mami. Not really sensitive nih child. How could you not feel dicuekin? Stay aja say. I do not care just shut up and nod occasionally. Kupanjatkan inestimable gratitude when he finally Si Boi home. Alhamdulillah!
***
I saw Bambang laughed. Annoyed, I threw a pillow at him. People long story ask advise, why just diketawain?!?
"Bang, seriously, dong! Anyway, if later you about nanyain Mummy Boy, awass if you agree! "Seriously threatened. Bambang was still grinning.
"Maya gimana ya, anyway? Usually, I told ya that patience with all things. Lho, kok gini hot right now instead? Relax wrote, mbak, wait! Innallaha ma'ashshabirin! "She said, quoting one verse in the Qur'an.
Yes, yes. Why am I so do not be impatient gini. New ngadepin also the Boy. Astaghfirullah!
"Mbak confused, Bang! Mojokin out house at all. You understand, right, choosing a husband is not easy. Nyari the righteous now difficult. Ya do not want gambling. One-one selected, the stakes are huge. No kidding, the afterlife! "
Momentarily, I saw the seriousness in his eyes. Just a moment, before he returned to tease me.
"Do I need a nyariin Bambang ???!"
Throw pillow back float.
***
Kriiiiing ...!
Oops, I turn out the alarm clock that woke me. Three more quarter-hour. I get out of bed, rushed to the bathroom to perform ablutions. Bambang room I noticed the lights still on. A faint voice sounded murattal tapes.
Also achieved his intention to stay up tonight, I thought. Heran, habit patterns for exams with SKS (Overnight Kebut System) still seems to be entrenched.
Quick Kuhapuskan Bambang and thoughts about the exam. My eyes fixed on my face watching the reflection in the mirror. I wiped the water droplets remaining ablution with a small towel. Oooohh, this is apparently the girl at the end of the age of twenty-nine? I noticed that my form is getting thin. I realize, how pale face. Whether the departure where the usual red hue to be there. May be lost with age. Ya Rabbi, deserve it Papi and Mami was so worried. They do not have a beautiful first-born, before the old, again!
"Ir. Maya Prihartini. "Kueja my own name.
"Do not worry ukhti yes, it's not bad luck!" I whispered comforting. After all I have to stay resignation to God. Mate, rizki, and death, He who determines. Paired in the world is not a certainty that we will achieve in life. No, there are other things more important, more certain. There is death, death is certain we are facing. Something that has been often I say to the other Muslim brothers, when they are busy worrying future husband who did not come.
"Actually we are funny, huh? More often questioned the marriage, it is not necessarily happen. Maya intention, over time and age, should not make us forget to think positively of God. It may be that our candidates are not created in the world, but it is provided in heaven. Maybe God wants to give a better, who knows? "I said optimistically, two years ago.
Astaghfirullah! Yes Ishbiri ukhti, isbiri ....
My hands were still up, praying, when I heard the resounding call to Dawn. New day again present. Alhamdulillah, thank you O God, for another day, and repentance charitable opportunities, which still you give.
***
Finished with Mami for problems Boy, I turn to face Aunt Ida who are ready to promote his candidate. Duhh! Again, I can only nodding.
"Auntie's up to Maya. Just look aja dulu. Maya thanksgiving thanksgiving-like. He's ravine. His father, including the owners of the most rich buffalo in Java. But not tacky, really. Also college kids like you! "Aunt Ida enthusiastic promotion.
Two days later, it returned Tanteku come with 'balon'nya.
"Junaedi. Call Juned aja! "
I just nodded. No reply to the proposed outstretched hand.
During subsequent conversations, many times I had to restrain myself, to not run into. I do not want to offend Aunt Ida. Moreover, he meant well. Only, Juned smoke really makes me sick. In fact, do not stop-stop. Out one, connect a. Just days before the steam locomotive!
He also boldly comment on my appearance.
"Eng ... no offense yes, Jeng. I like confused myself ngeliat woman wearing a veil. Why can not smart-smart select the color and fashion?! If I have a wife, would not buy clothes that tell the colors bright, lit. As well as a variety. As used our artists that Moslems know, now. Ndak nothing yet little visible neck or legs?! I mean let me not look like a sack of walking so you know, Jeng! Hahaha .... "
Cash my expression changed. Without waiting for his sixth cigarette out, I excused myself into. Soon I heard Juned goodbye. Alhamdulillah.
When Aunt Ida asked my opinion, I cautiously replied.
"I'm sorry, Tan ..., it was not comfortable Maya. Especially that cigarette smoke, you know. Because Maya has the same allergy cigarette smoke. Which seems Juned heavy smokers, again. Sorry, Tan ..., udah ngerepotin. "
Imagine the disappointment was adorned Tante Ida expression.
"Bener, ya ... not nyesel? Tante just trying to help. Maya also have to think the same feelings Papi Mami. Difficult to know, that such nyari Juned. 've Handsome, dokterandes again! Moreover, you also are old enough. "
Aunt Ida Persuasion unable menggoyahkanku. With still disappointed, he went out. I heard Aunt Ida had talked with Papi and Mami. Had also heard their comments are suggestive disappointed, sad. O God, strengthen thy servant!
Day gradually night. I'm still in the room, motionless. Various feelings play in my heart. Meanwhile, rain mists.
***
So hot afternoon. Sluggish pace toward the house. Tired of it half way daily, from one library to another library IPB. But I'm looking for books that had not yet met. Though the book is needed for the exam sarjanaku post shortly. Vain hope to get some rest back to Depok. Kutumpangi train really full. Was lucky to stand upright, and not inclined to and fro, pressured other passengers.
'Assalam Alaikum! "I feel bad again, see the Mummy is not alone. A man berjeans, with a mat on the shoulder, and a skullcap on his head, seemed to accompany him. Do not ... do ....
"Wa'alaikumussalam. Well, this was home Ajengnya. Maya, here darling. Recommend, Saleh. Son of Mr. Head who had just graduated from boarding school in Borneo. You must be able to work together to manage activities of the mosque here. Why, Maya ..., why even silent? Sorry son Saleh, Maya was a shy person. "
Duhh, Mami!
This time, let alone with Mummy's guest. Uncomfortable, I asked Rani with me. She agreed after I promised to accompany him to hear a lecture on the Wali Songo, next week.
During Saleh spoke, I looked down on. I could feel his eyes that darted toward me. With a high style, Saleh told her about the various books in Arabic that he had mastered. No kidding. Then he began to discuss one by one, a difference of opinion among Muslims. Problem Qunut prayer, prayer iftitah differences, problems when tahiyat finger positions, and others are similar.
Frankly, I do not agree with how. Well that all we need to know. But for me, with more fuss about it, will only exacerbate existing differences. It is enough that each hold on to the Sunnah of the Prophet. Surely it would be better if we just try to find the intersection or equality, and rather than widen the gap.
"If according to Saleh, the case of Bosnia is how it?" Distraction.
"Oooh, that. Ane strongly disagree. According ane opinion and analysis, not Bosnia's problems should be heralded. That will make it increasingly entrenched attitudes. It is time pattern bossy attitude, and respect the community of people who have a position, properly directed. In order not excessive. "Ulasnya length.
I turn confused.
"I ... I do not understand what he meant Saleh." I say a little stutter.
"Why? Is it because the language used is too high ane or how, until Maya difficult to understand? "
I added gape.
"Not that, this ..., which Bosnia, which Saleh mean?" I asked more confused.
"Lha, which confused even nanya kok! The ane talking about it about Bosnia, Boss-Mania, Maya intentions?!! "
UFH, suppressed laughter that burst. I'm confused, it turns out there are still people who made a fuss about things that are relatively smaller, and forget the other problems is greater. From the corner of my eye, I saw Rani pringas-pringis with amusement, while playing with her pink scarf. Very funny.
"No, the Maya meant oppression happens in Muslim brothers we are in the State of Bosnia." I tried to explain to the patient.
Saleh appeared nodding.
"Ooooh, that one. Yes ... obviously the suppression can not be justified. Incompatible with humanity and justice, "Saleh said optimistically, and then ....
"By the way, where Bosnia was, anyway?"
Rani laughter exploded.
Duhhh, Mummy!
***
At night, when I protested to the mammy, about the candidates that, unexpectedly, even Mummy is angry.
"Why, you were gimana toh? Bambang said the same ye Saleh wants. Pas temuin Mummy, you said not the way you want. So in fact, Saleh which candidate you that? "Mami's voice rose.
I was shocked. Bambang, who was sitting in a chair eating smile. Watch out, you're de '! I whispered fiercely.
"Not a name Saleh, Mi. Maya wants the righteous, pious. People who have approached the understanding most menyeluruhlah, about Islam. That Islam is not just a theory, but there is evidence. Which is not wildly at Maya continuously from the end of the scarf to socks, as if to offer merchandise. Maya knows, the age of Maya is far from enough. Maya also pengen get married. Where's women, who do not want a family, and have children? "I said almost in tears.
"But ..., please. Do not corner the Maya. Mummy Please help Maya to stay patient, stay the same God resignation. We should try, but do not push yourself. I'll have to wait until Maya old, Maya is ready. Rather than conduct to use ruqyah husband who is not Islamic. Please Maya, Mi ... please! "I saw his eyes brimming with tears Mami. She took me into his arms. Together, we berisakan. Papi helped over, patted my shoulder. Rani and Reno stopped in his chair.
"Maafin Mummy, darling ...." Mami's voice whispered, hugging me even tighter.
***
Write a diary Kesibukanku stopped.
"Mbak Maya ... phone tuh!" Cried loudly Rano.
"From whom? If the Anto Boy, Didin, Juned, or Saleh, ya do not want to accept! "I said rather loudly.
Quiet, no further calls from Rano. I was relieved.
Alhamdulillah, since the other night, we gradually shift the trend topics. Mami no longer offering candidates, before asking my willingness. Some of Uncle and Aunt who came, had to go home disappointed because the promotion was canceled. I want to calm down their first.
I grabbed a pen. With a heart as light as cotton, I began to write:
My husband is the candidate ....
Today I was getting one more year.
Thirty years already. Alhamdulillah. I hope, the years passed, though keremajaanku diminish, but will never diminish the existing ghirah Islamiah. I hope I can still stay istiqomah in his way.
Sarjanaku post exam is over. Soon, an appendage to decorate my title back. Not long ago I also took sewing and cooking courses. With a big heart too, Mummy must admit, that skill in the kitchen, now is unrivaled.
Alhamdulillah, now I'm more able to concentrate to write, and gave lectures at several campuses and mosques. New bit of that, I can do as a manifestation of gratitude for His blessings untold.
My future husband ....
I understand, if until this moment you are not also present. The problems that befall the Muslims so much. All of which form a long list of our agenda. I'm sure not being solely due to the existing mission activities. A noble work, which only a few people feel compelled to take responsibility. Insha Allah, it will make the waiting as if there never was.
My future husband ....
But if you had provided for me in this world, when you're ready to add one more trust in this life, which would be a plus in front of Allah (may), will come. Do not you worry about the unfinished school, or work that was odd. Insha Allah, faith will answer everything. Entrust everything to God. If he always gives rizki, but we are not in a state of jihad in His way, then how could God will abandon us, while we always strive in His sabil?!
Multiply prayers, Prospective Husband, wherever you are. Insha Allah, I pray always accompany your efforts.
Wassalam,
Adinda
PS: By the way, the name of who you are, anyway?
"Syahril ... My name Syahril."
Deg! I gasped. Grasp the pen that fell. The feeling I heard a voice. Little tiptoe, I walked to the front. Before I had time to limit the curtain dining room with living room, I heard Papi called me.
"Maya ...!"
I almost fell, so he approached tergesanya. Glance my eyes swept the shadow of a bespectacled man, who stood not far from Papi, with downcast face, close to the chest. Behind him, Bambang stood with his trademark smile.
"Well, son Syahril, this is the name Maya. Oom eldest daughter. Lho, kok malah down? "The voice sounded ngebas Papi again.
I looked for a moment, which was called Syahril kept his head down.
"Come on, shake hands. This lho, Jeng ... son mas Wismoyo, Papi friends since the first revolution, as well as her Ass Dos in Social Bambang. Just graduated ya boy? "
Syahril nodded. But, still there was no helping hand.
"Assalam Alaikum, Maya. I Syahril. "
Mashallah! I still stare, transfixed.
"Insha Allah, today I will berta'aruf with Maya. If Maya agrees, can be implemented khitbahnya tomorrow. After that ... hopefully we can jihad together .... "
I heard a little vague last sentence. I saw Daddy grinned, glancing at me.
"What, Jeng ... khitbah? Ngelamar, yes ...?? "
I nodded short, embarrassed. Laughter Papi widened.
I'm still stunned.
Mashallah, my future husband ... eng ... engng ... oops, if ... if ... this you?

source: http://ceritacinta.net/2007/04/12/calon-buat-ajeng/

Bookmark and Share

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan pesan disini.

UPN Veteran Yogyakarta
 

All Rights Reserved

Copyright 2010
Story Center Website