Selamat datang di Linggar Story Center

Selasa, 23 Maret 2010

Batu Menangis/Weeping Stone

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur. Provinsi ini memiliki ratusan sungai besar dan kecil, sehingga dijuluki sebagai wilayah “Seribu Sungai”. Menurut cerita, di sebuah daerah di provinsi ini ada seorang gadis cantik yang menjelma menjadi batu. Peristiwa apa yang menimpa gadis itu, sehingga menjelma menjadi batu? Ingin tahu cerita selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Menangis Berikut ini!

* * *

Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan.

Sementara putrinya, Darmi, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak.

”Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah,” ajak sang Ibu.

”Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur,” jawab Darmi menolak.

”Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?” tanya sang Ibu mengiba.

”Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu,” jawab Darmi dengan ketus.

Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan.

”Bu! Mana uang upahnya itu!” seru Darmi kepada Ibunya.

”Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini,” ujar sang Ibu.

”Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru,” kata Darmi.

”Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja,” kata sang Ibu kesal.

Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari.

Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut ke pasar.

”Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya.

”Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Darmi menolak ajakan Ibunya.

”Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru Ibunya.

Namun setelah didesak, Darmi pun bersedia menemani Ibunya ke pasar.

”Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata Darmi kepada Ibunya.

”Memang kenapa, Nak!” tanya Ibunya penasaran.

”Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu,” jawab Darmi.

”Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?” tanya sang Ibu.

”Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan Ibunya.

Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya. Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan Ibunya mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan.

Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.

”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya temannya itu.

”Ke pasar!” jawab Darmi dengan pelan.

”Lalu, siapa orang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?” tanya lagi temannya sambil menunjuk orang tua yang membawa keranjang.

”Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis.

Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang.

”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu.

”Hendak ke pasar,” jawab Darmi singkat.

”Siapa yang di belakangmu itu?” tanya lagi orang itu.

”Dia pembantuku,” jawab Darmi mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.

”Bu! Kenapa berhenti?” tanya Darmi heran.

Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.

”Hei, Ibu sedang apa?” tanya Darmi dengan nada membentak.

Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.

”Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!” doa sang Ibu.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik.

”Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu?” tanya Darmi sambil berteriak.

”Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” seru Darmi semakin panik.

Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

* * *

Demikian cerita dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sikap durhaka terhadap orang tua. Oleh karena itu, seorang anak harus hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, karena doa ibu akan didengar oleh Tuhan.

Terkait dengan sifat durhaka ini, dalam tunjuk ajar Melayu dikatakan:

kalau hidup mendurhaka,
kemana pergi akan celaka

kalau suka berbuat durhaka,
orang benci Tuhan pun murka
.



Sumber:
  • Isi cerita diadaptasi dari "Cerpen: Batu Menangis”, (http://s.tf.itb.ac.id/~armanto/cerpen/batumenangis/, diakses tanggal 3 Mei 2008).
  • Anonim. “Cerita Rakyat Kalbar,” (http://www.geocities.com/kesumawijaya/ceritarakyat/kalbar1.html, diakses tanggal 3 Mei 2008).
  • Anonim. “Kalimantan Barat”, (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat, diakses tanggal 3 Mei 2008).
  • Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru, Bappeda Tingkat I Riau.
  • Melayu online





 English Version

Weeping Stone
West Kalimantan is one of the provinces in Indonesia which is located on the island of Borneo and direct border with Sarawak, East Malaysia. This province has hundreds of large and small rivers, so called as the region "Thousand Rivers". According to the story, in an area in this province there is a beautiful girl who transformed into stone. Events what's happened to the girl, so transformed into a stone? Want to know the full story? Follow the story in the Stone story Crying Here!
* * *
Once, in a remote village in West Kalimantan, Indonesia, there lived an old widow with a beautiful daughter named Darmi. They lived in a hut located at the end of the village. Since Darmi father died, their lives became difficult. Darmi father did not leave any inheritance. To meet their life needs, maternal Darmi working in rice fields of others as wage laborers.
While his daughter, Darmi, a spoiled girl. Whatever he asks to be granted. Besides spoiled, he's also a lazy girl. It works just primp and admire the beauty in front of the mirror. Every afternoon he was always up and down the village without a clear purpose, but only to show her beauty. He did not want to help her mother make a living. Every time his mother took him to the field, he always refused.
"Girl! Come help me work in the fields, "said his mother.
"No, Mom! I do not want to go into the fields. Later dirty nails and my skin is exposed to mud, "said Darmi refused.
"Do you not feel sorry for me, my son?" Said the mother pleaded.
"No! Mom just old working in the field, because there is no longer possible for men who are interested in the mother's face was wrinkled, "he replied curtly Darmi.
Mendegar answers that his son, the mother can not say any more. With sadness, he went into the fields to work. While the Darmi still live in huts, continued mempecantik primp for him. After her mother came home from the fields, Darmi ask for money his mother earned wages to buy cosmetics.
"Mom! Where's the money that his wages! "Cried the mother Darmi.
"No, son! This money to buy the necessities of life we are today, "said the mother.
"But, Mom! Bedakku is up. I had to buy a new one, "said Darmi.
"You're child does not know himself! Him to spend money, but do not want to work, "said his mother upset.
Although angry, the mother still give money to Darmi. The next day, when her mother came home from work, he asked again Darmi wages earned money to buy her other beauty tools. Such circumstances occur almost every day.
On one day, when her mother to the market, Darmi advised that bought a beauty tool. But, she did not know what he's cosmetic purposes. Then her mother asked her to come to market.
"Then, let's go with Mom to the market!" Said his mother.
"I do not want to go to market with you!" Said her mother refuse Darmi.
"But, I do not know what beauty means you mean it, boy!" Cried his mother.
But after pressed, Darmi was willing to accompany her mother to the market.
"I want to join my mother to the market, but on condition that she must walk behind me," said Darmi to the mother.
"So what, son!" She asked curiously.
"I'm ashamed to the villagers when walking side by side with my mother," said Darmi.
"Why should be ashamed, son? This I not your real mother? "Said the mother.
"Mother should mirror. See Mom's face that was wrinkled and dirty clothes that the mother is! I'm ashamed to have a mother like that mess! "Said Darmi condescending tone mother.
Although sad, the mother had to oblige her. After that, off they went to market in tandem. The Darmi walked in front, while his mother followed from berlakang with a basket. Although both mothers and children, their appearance look very different. As if they were not the same family. The Child looks pretty good with the clothes, while her mother looked very old with very dirty clothes and patched.
Along the way, Darmi met his friend who lived in another village.
"Hey, Darmi! Where are you? "Asked his friend.
"To the market!" Darmi replied quietly.
"Then, who is behind it? Is she your mother? "Asked his friend, pointing to another parent who brought the basket.
"Of course not my mother! He is the servant, "said Darmi with sarcasm.
Thunderstruck like the old man heard his daughter. But he was silent while holding a sense of sadness. After that, they even go on to the market. Not long walk, they met again with someone.
"Hey, Darmi! Where are you? "Asked the man.
"One does to the market," said Darmi brief.
"Who's behind it?" Asked another man.
"He's servant," said Darmi getting annoyed with the questions.
Darmi thrown answer made her heart more sad. But, the mother was still able to resist a sense of sadness. That's going on and on for the way to the market. Finally, the mother stopped, then sat on the sidewalk.
"Mom! Why stop? "Said Darmi surprised.
Darmi asked several times, but the mother still did not answer the question. A moment later, Darmi saw her mother's mouth hum and commit while lifting her arms above.
"Hey, you're what?" Asked in a tone Darmi snapped.
Mother still did not answer her questions. He continued to pray to God to punish the rebellious son.
"Oh, God! Forgive this weak servant. Servant was no longer able to face his rebellious children of this servant. Give him retribution! "Prayer of the Mother.
A few moments later, the sky suddenly became overcast. Flashing lightning and rumbling thunder was deafening. Heavy rain was falling. Slow down, feet Darmi turned to stone. Darmi began to panic.
"Mother ...! Mother ... ! What happened to my legs, ma'am? "Said Darmi shouting.
"Forgive Darmi! Darmi sorry, Mom! Darmi will not repeat it again, Mom! "Said Darmi more frantic.
However, what was about to be made, rice has become porridge. The punishment can no longer be avoided. Slowly, the whole body turned to stone Darmi. Changes that occur from the legs, body, up to the head. Rebellious girl could only cry and cry regretted his actions. Before his son's head turned to stone, his mother still see water dripping from her eyes. All the people who passed in that place also witnessed the incident. Not how long, the weather cleared as usual. Darmi whole body had become stone. The rock is then they put it on the sidewalk leaning against the cliff. By the local community, the rock they named the Rock Cried. The rock is still well preserved, so that we can still see today.
* * *
Thus the story of West Kalimantan, Indonesia. The story above includes exemplary stories containing moral messages that can be used as guidance in daily life. One of the moral message that can be learned from the story is the impact of rebellious attitudes towards parents. Therefore, a child must be respectful and obedient to his parents, for mothers prayers will be heard by God.
In connection with this rebellious nature, the teaching point Malays say:

    
if life mutiny,
    
where to go get hurt

    
if you like disobedience,
    
God hates people were angry
.


Source:

    
* The contents of the story was adapted from "Short Story: Stones Cry", (http://s.tf.itb.ac.id/ ~ armanto / stories / batumenangis /, accessed on May 3, 2008).
    
* Anonymous. "Folklore Kalbar," (http://www.geocities.com/kesumawijaya/ceritarakyat/kalbar1.html, accessed on May 3, 2008).
    
* Anonymous. "West Kalimantan", (http://ms.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat, accessed on May 3, 2008).
    
* Effendy, Tenas. 1994/1995. "Mockery" To Orang Melayu Riau and Riau Malays Pantangan People. Pekanbaru, Riau Bappeda Level.
    
* Melayu Online

    Bookmark and Share

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Silahkan tinggalkan pesan disini.

    UPN Veteran Yogyakarta
     

    All Rights Reserved

    Copyright 2010
    Story Center Website